Friday, 6 July 2012

Liburan (Tidak Seru, tapi Asyik!)

Hoahm~ Sekarang sudah 6 Juli. Berarti tinggal 2 hari lagi waktuku untuk menikmati sisa-sisa liburan. Seperti biasa, liburan kali ini sih hanya aku habiskan didalam rumah tercinta.

Sound boring, huh?

Yap.

By the way, karena sebentar lagi sudah sekolah itu artinya aku gak bisa ngalong lagi dong? huhuhu sedih. selain itu, siklus hidupku pun kelihatannya sudah mulai beranjak normal. Mulai tadi malam aku sudah ngantuk, dan tidur jam 10+ malam padahal tadinya selama hampir 3 minggu libur aku selalu memperlakukan malam sebagai siang dan siang sebagai malam. Malam selalu bergadang sampai dini hari dan tidur disiang hari hehehe.

Liburan dirumah memang kurang seru, tapi bukan berarti tidak asyik (?). Kalau diingat-ingat lagi, ada kok beberapa hal-hal menyenangkan yang aku alami waktu liburan selain soal siklus hidup yang menyenangkan itu.

Pertama, aku bisa bertemu dengan teman-teman yang sudah lama tidak aku temui.  Entah apa yang merasuki sahabat-sahabat lamaku sampai-sampai mereka selalu mau kalau disuruh ngumpul dirumahku-_- sms saja salah satu dari mereka, “Ngumpul yok oi”. Pasti langsung deh mereka dateng berombongan. Dan siap mengantar aku kemana pun aku mau hahaha XD *plak.

Ya, pokoknya selama liburan ini seringlah ketemu dan jalan-jalan dengan mereka. Terakhir kemarin sih dengan biadabnya kami datang berombongan dan bikin keributan di Jamtos. LOL.

 Lalu, aku juga sempat jalan-jalan dengan keponakanku si Restu. Sayangnya Mak (Jelly) tidak bisa ikut. Ya wajar sih soalnya memang mendadak. Itu gara-gara Ani unnie (Leader Cassiopeia Jambi Community) mengajak kami bertemu di UNJA Telanai. Mau tidak mau pergi deh. Soalnya hari itu terakhir kalinya Ani unnie bisa meluangkan waktu untuk ketemu kami sebelum dia pergi ke luar Jambi. Hiks. Yaa lagipula memang ada barang yang mesti diambil sih, kekeke~

Ya, walaupun pertemuan-pertemun itu agak-agak sarap, lumayanlah daripada selalu mendap dirumah. Aku juga sering pergi bersama keluarga. Banteran sih, pergi makan malam keluar. Hahaha.

Kedua, Belanja! Wah, kalau sudah liburan itu surganya belanja bagi aku ). Bagi yang belum tahu, aku ini selalu berusaha berhemat dan menabung saat disekolah. Alasannya sih SELAIN UNTUK MENGISI CELENGAN GARFIELDKU, supaya aku bisa sedikit berpoya-poya waktu liburan HA HA HA HA XD

Bulan Juni dan Juli adalah saat yang tepat untuk mengumpulkan uang yang banyak. Aku selalu mendapatkan uang saku perbulan. Rp.350.000,- perbulan. Sistem ini ada sisi buruk dan baiknya. Buruknya, aku harus pintar-pintar mengatur itu uang supaya cukup untuk membeli segala kebutuhanku selama sebulanKecuali hal-hal yang memang diluar tanggung jawab aku. Jadi kalau uang itu habis sebelum satu bulan, tanggung sendiri akibatnya. Duh.

Kalau positifnya sih, tidak peduli hari sekolah maupun hari libur aku tetap dapat jatah 350.000 perbulan. Nah, seperti kataku tadi, bulan Juni dan Juli adalah saat yang tepat untuk mengumpulkan uang yang banyak. Kenapa? Karena Juni hanya diisi dengan ujian, selebihnya liburan. Begitu pula dengan Juli. Jadi uang jajannya banyak tidak terpakai kan? Nah, uang itulah yang aku pakai untuk memborong barang-barang yang aku inginkan^^ hohoho~ *memborong 2 kali setahun*


Kemarin waktu menemani mama belanja ke kawasan pasar angso duo Jambi, aku sempat mampir sebentar ke belakang Mega (nama daerahnya belakang Mega, gak tau juga kenapa disebut begitu), Pusatnya para dedengkot penjual kaset bajakan berkumpul. Hohoho. Ada beberapa kaset yang aku beli.

Detective Conan Movie 6 (The Phantom of Baker Street), Detective Conan Movie 10 (The Private Eye Requiem), Detective Conan Live Action Special Movie 4 (live action movie ya, bukan yang series), INSIDIOUS 1 dan beberapa kaset anime lainnya (mereka lagi dipinjam sama teman jadi ga bisa ikut di foto).

Aku beli Detective Conan Movie karena aku memang sangat suka dengan Conan. Malah sempat addict. Ho ho ho. Kalo DC series aku sudah banyak kasetnya, begitu juga dengan Live Action Movienya. Edisi 1, 2 dan 3-nya sudah download. Jadi, beli yang movie 4 saja ^^ Kalo soal INSIDIOUS aku sih tidak ada niat mau membeli, tapi mengingat adikku yang suka banget nonton film horor makanya aku beli. Sesekali dia dikasih asupan film horor bermutu. Kasihan dia kalau cuma mengkonsumsi film horor indonesia yang tidak jelas itu-_-

Dan kaset JYJ Come On Over yang aku pesan ke Ani unnie juga udah aku ambil ^^ 5 kaset 50.000. YAY!

Selain kaset, aku juga memborong novel^^ ada 5 novel yang aku beli dalam kurun waktu 3 minggu. Buset.


The Bell Jar, Love n’ Life, Ingo, The Crossing of Ingo, dan Wings. Tiga novel fantasi dan dua novel drama kehidupan. LOL.

The Bell Jar aku beli tepat dihari terakhir ujian semester kemarin. Aku sudah sering melihat review buku ini jadinya tertarik ingin beli juga. Ceritanya lumayan bagus sih. Tentang kebingungan seorang wanita bernama Esther Greenwood tentang tujuan hidupnya. Love n’ Life aku beli sekitar akhir Juni. Acara keluarga keluar untuk makan malam yang berakhir di Gramedia^^ mumpung papa mau beliin jadi aku pilih buku itu deh. 

Nah kalau Ingo, The Crossing of Ingo, dan Wings ini aku beli waktu jalan-jalan sama mama. Rencananya cuma mau beli piring dan gelas ke Kedaung. Aku iseng aja bilang,”Ma ke Gramedia sebentar yuk”. Eh mama mau, jadi ya langsung capcus XD

Kalau disuruh memilih satu kata untuk menggambarkan Ingo, ‘Menakjubkan’ adalah kata yang tepat. Yup novel tetralogi karya Helen Dunmore ini memang sangat menakjubkan. Apalagi bagi orang yang selalu mudah terpesona dengan kehidupan bawah laut seperti aku. 

Novel Ingo terdiri dari 4 Seri. Aku sendiri pertama kali kenal dengan Ingo waktu aku minjam novelnya sama temanku, Atika. Saking bagusnya aku sampai rela beli sendiri walaupun aku sendiri sudah baca semuanya. Hehehe.

Ingo menceritakan tentang pertualangan Shappire dan Connor, kakaknya di kehidupan bawah laut. Mereka tinggal di daerah pantai. Shappire sangat menyukai laut. Dia merasakan suatu ikatan erat dengan laut, entah mengapa. Dia sering pergi ke laut bersama Ayahnya entah itu untuk memancing, berenang maupun sekedar ingin bersantai menikmati aroma laut yang khas. Namun, kebahagiaan Shappire bersama Ayahnya hanya sebentar. Ayahnya tiba-tiba menghilang! Terakhir kali ia melihat ayahnya disaat ayahnya berpamitan ingin berlayar sebentar ke laut. Banyak orang yang percaya kalau ayahnya itu tenggelam dilaut dan sudah meninggal. Tapi Shappire dan Connor tidak mau percaya, mereka terus menganggap ayahnya masih hidup disuatu tempat. Seiring waktu, ikatan antara Shappire dan laut semakin kuat Dia sering mendapat dorongan yang sangat kuat untuk masuk kedalam laut. Apalagi setelah ia bertemu dengan Faro, seorang lelaki duyung yang segera menjadi sahabatnya itu. Ternyata Ingo memiliki alasan tersembunyi dibalik obsesinya terhadap laut dan dimana ayahnya berada.

Mau tahu kelanjutannya? beli dong bukunya! HA HA HA.

Buku ini sangaaat bagus. HIGH RECOMMENDED deh! Hanya saja kabar buruknya untuk pecinta novel di Jambi, stok tetralogi Ingo sendiri hanya tersedia di Gramedia dan sudah hampir habis! Aku saja hanya dapat seri pertama dan keempat. Seri kedua dan ketiganya sudah habis u,u)

Untuk novel Wings, aku belum bisa kasih contekan soalnya aku sendiri masih dalam-proses-membeca-hingga-tuntas. Hehehe. Sorry. Tapi garis besarnya sih tentang dunia peri.

Ketiga, aku bisa bebas online dan download anime-anime yang aku suka XD. Walaupun modem sudah resmi menjadi milikku tapi tetap saja tidak bisa bebas internetan waktu sekolah. Jadi saat liburan ini aku puas-puasin deh untuk internetan! Hehehe.

Selain download berbagai lagu dan MV dari TVXQ, JYJ dan Hello! Project, aku juga download beberapa anime. Lumayanlah yang aku dapat. Koleksi OVA dan Magic File Detective Conan sudah lengkap \^^/. Aku lagi sukaaa banget sama anime berjudul ANOTHER! Genrenya horor-thiller gitu. Eits, walaupun Horor, tapi sama sekali bukan tentang hantu loh~ baca aja review dan download aja disini > ANOTHER (Anime)
 
DIJAMIN TIDAK RUGI! SOALNYA INI ANIME BAGUS BANGET!!!!

Aku juga lagi fallin in love banget sama Misaki Mei (tokoh utama ANOTHER). Padahal Mei kan cewek,ya? hehehe. Habis keren sih!









Yaa inilah tiga hal menyenangkan di liburanku. Lega sekali saat tahu aku bisa menikmati waktu liburanku walaupun tidak berlibur keluar kota! :D
 
Selanjutnya waktuku akan kuhabiskan untuk mempersiapkan segala hal untuk kembali ke sekolah. Aku juga sudah mulai belajar di G.O hari ini ^^ 

Ini liburanku, bagaimana denganmu? Share please! ;)

Thursday, 5 July 2012

(Cerpen) The Brighter part 4 ~ END



 Part 1 , Part 2  , Part 3
Coca sudah mati, lalu bagaimana dengan Pity? Temukan jawabannya di part kali ini. Part terakhir!

The Brighter..
(Part 4 ~ END)


Pity’s POV
            Drap… Drap… Drap…
Aku berlari cepat. Aku ingin cepat cepat sampai dan bertemu dengan Coca. Aku ingin meminta maaf karena tadi malam tidak pergi menjenguknya.
“Padahal aku sudah berjanji akan datang.” Gerutuku. “Dia pasti menungguku semalaman. Pity! Kau bodoh sekali!”
Tadi malam, memang, entah kenapa aku lupa akan janjiku untuk datang kerumahnya. Padahal selama ini aku tidak pernah melupakan janjiku. “Dasar bodoh” pikirku. Kuharap dia tidak marah padaku. Ku percepat langkahku, tapi saat aku sampai kerumahnya, aku merasa ada yang aneh.
Ada sesuatu yang hilang. Tapi aku tak tahu apa itu.
Dengan kuat aku memanggil Coca. “Coca! Coca! Coca!”. Tidak ada sahutan. Tidak ada jawaban. “Aneh,” pikirku. “Biasanya dia selalu menjawab.”
Karena penasaran dan merasa tidak enak, aku pun memberanikan diri untuk naik dan masuk. Kuintip seisi rumah. Sepi. Coca juga tidak ada. “Ada yang aneh,” pikirku. Kucoba memanggilnya sekali lagi, tapi tetap saja tidak ada sahutan.
“Dia kemana? Apa dia sudah sembuh? Kenapa dia tidak memberitahuku? Apa dia sedang pergi bermain? Ah, tidak mungkin.” aku kebingungan. Memang tidak biasanya Coca pergi bermain tanpa mengajakku.
“Mungkin dia ke lapangan bersama yang lain,” dugaku. Secepat mungkin aku berlari melihat ke lapangan. Tapi disana aku tidak melihatnya. Bahkan yang lain juga tidak kelihatan. Aku merasa tidak enak.
“Ah, mungkin saja dia di rumahku!” pikirku berusaha menghalau perasaan tidak enakku. Aku menyusuri jalanan yang kebetulan sepi. Tidak ada Coca, maupun kucing lain. Tapi aku juga tidak melihat tanda-tanda Coca di rumahku. Aku juga sudah berusaha mencari ke tempat lain, tapi tidak ketemu juga. Aku semakin bingung.
Tapi tidak disangka, kebingunganku itu segera terjawab siang harinya…
Saat itu aku sedang menyantap makan siangku. Lalu tiba-tiba ada yang datang kerumah.
“Samekum… Jell.. Jelly!!” panggil kedua gadis itu. “Oh, Desty dan Tutu rupanya,” pikirku.
“Kumsalam.. Ohh!! Masuk oi masuk!!” seru Jelly.
“Dak sah lah, disini bae, lebih enak,” kata Tutu.
Mereka bertiga pun langsung mengobrol dengan seru. Aku hanya mendengarkan dengan rasa malas. “lagi lagi bergossip, dasar.” Pikirku. Aku sudah hendak pergi saat aku mendengar mereka menyebut-nyebut Coca. Dengan cepat kuurungkan niatku.
“Oi des, kayak manolah kabar kucing kau? La sembuh??” Tanya Jelly.
“Iya nih des, kayak manolah Coca?” Tanya Tutu.
“Justru inilah ngapo aku ngajak Tutu kerumah kau, Jel” kata Desty.
Kulihat Desty menghela nafas, wajahnya terlihat sedih. Sepertinya ada sesuatu yang buruk jantungku berdebar kencang melihat ekspresinya. “Semoga tidak terjadi apa-apa!” harapku.
“Tu, Jel, Coca… mati.” Katanya.
“HAH??? Kok bisooo???” teriak Jelly dan Tutu serentak.
“Entahlah, tapi tadi pagi aku liat Coca sudah mati.. kuraso tadi malamlah dioknyo mati,” kata desty lagi.
“Ya ampun des.. sabar yo..” kata Tutu menyabarkan.
“Iyo des, aku turut berduka cita..” timpal Jelly.
Mendengar itu, aku merasakan jantungku berhenti berdetak. Ini jelas-jelas bukan kabar yang ingin kudengar. “Tidak.. Tidak mungkin.. Tidak mungkin!!!!” pekikku. Aku segera berlari keluar menuju ke rumah Coca. Aku yakin dia masih hidup! Aku yakin. “Pasti dia sekarang sedang dirumah, menyantap makan siangnya.” Pikirku. Sungguh, jahat sekali mereka. Aku tak mau percaya.
Aku menerobos masuk ke dalam rumahnya sambil berteriak. “Coca!! Coca!! Cocaaaaa………!!!!! Keluarlah!! Aku tahu kau masih hidup!!! Coca!!” pekikku. Tapi tidak juga aku melihat Coca. Kumasuki setiap ruangan yang ada, tapi Coca tidak juga terlihat. Aku sudah hamper menangis. “Tidak, aku tidak mau..”
Aku langsung berlari kejalanan. Aku bermaksud mencari Garpil atau Hendri, atau siapa saja yang bisa mengatakan dimana Coca berada. Sungguh, aku tidak mau percaya kalau Coca sudah mati. “Tidak!” pikirku.
Tepat dipersimpangan jalan, aku bertemu dengan Garpil dan Hendri yang sedang berjalan beriringan. Segera aku bartanya pada mereka.
“Garpil!!! Hendri!!! Tunggu!!!” panggilku. Mereka berhenti.
“Pity..” ujar Garpil.
“Coca!! Dimana dia?? Kalian tahu kan Coca ada dimana??” tanyaku, sedikit membentak.
Garpil dan Hendri menatapku iba, “Pity, yang sabar ya..” kata Hendri seraya menepuk pundakku. Dengan cepat aku mengelak dari tepukannya. “Dimana Coca, hah?? Dimana!! Kalian tahu kan!!”
Garpil berusaha menenangkanku. “Pity.. sabar ya.. Coca.. biarkan dia beristirahat dengan tenang..”
“Apa yang kalian bicarakan, hah?? Dimana Coca!!?” teriakku lagi. Garpil dan Hendri terdiam. Aku mulai menangis, “Dimana dia… dimana, hah?? Jangan bohong.. dia tak mungkin..” teriakku terisak.
Hendri merangkulku, “Pity, sudah… Coca, biarkan dia..” belum selesai dia bicara aku sudah memotongnya.
“Tidak!! Aku tidak mau percaya!! Dia pasti masih hidup!!” berontakku. “Aku akan pergi mencarinya!!” pekikku sambil berlari menjauh.
“Pity!!! Sadarlah!! Coca sudah pergi!! Kau harus menerima kenyataan itu!!!” teriak Garpil lantang. Langkahku terhenti mendengarnya. Garpil dan Hendri lari menghampiriku. “Sudah Pity, hentikan.” Kata Garpil.
Aku berbalik dan menatapnya nanar. “Aku.. aku.. aku tahu.. tapi.. aku…” tangisanku meledak. Garpil dan Hendri pun langsung merangkulku. “Yang sabar ya Pity..” kata Hendri.
Saat tangisanku mereda, Garpil berkata padaku, “Pity, tadi malam dia menitipkan pesan terakhirnya padaku,”
Aku memandang Garpil, “Apa itu??” tanyaku. Nafasku terasa sesak.
Garpil menghela nafas, “Dia ingin agar aku, menjagamu demi dia. Bersama Hendri juga.”
Mendengar itu, aku tidak sanggup lagi menahan perasaanku. Aku hanya bisa menangis sedih..
***
Setahun Kemudian..
“Aku pergi dulu ya…” kata Garpil padaku.
“Iya, hati-hati ya..” sahutku, tersenyum. Kuantarkan Garpil ke depan. Tampak juga didepan sudah menunggu Hendri. Dia tersenyum menyapaku, lalu pergi.
“Ma, Papa dengan Om Hendri mau pergi kemana?” Tanya Pichi padaku. Aku tersenyum mendengar suaranya yang mungil dan menggemaskan itu. Pichi ini adalah anak perempuanku.
“Mereka mau pergi kerumah tetua.” Jawabku lembut. Picho, anak laki-lakiku yang satu lagi mendekati kami.
“Oh, ke rumah Puyang Momo.. memangnya ada acara apa ma?” sambung Picho.
“Hm, ada suatu acara, peringatan kematian seorang sahabat baik,”
“Sahabat?” Tanya Picho.
“Iya, namanya Coca. Dia adalah sahabat baik Papa. Dia meninggal setahun yang lalu.”
“Ohh.. Apa Om Coca sahabat mama juga?? Bagaimana orangnya?” Tanya Pichi.
“Tentu saja, dia sahabat baik Papa, Mama dan juga Om Hendri. Dialah yang sering melindungi Mama dan teman-teman dulu.” Kataku tersenyum.
Pichi dan Picho menatapku polos. “Wah, pasti dia Oom yang baik, coba dia belum meninggal, Pichi pasti senang bisa ketemu dengan Oom Coca!” kata Pichi semangat.
Aku tertawa mendengarnya, “Om Coca pun pasti akan senang sekali bertemu dengan kalian!” jawabku lembut. Ku rangkul Pichi dan Picho dengan gemas. “Ayo kita masuk ke dalam, banyak nyamuk disini.”
Sementara Picho dan Pichi masuk, aku menatap ke langit. “Sudah setahun kau meninggalkan kami, bagaimana kabarmu?” gumamku. Aku melihat kearah utara langit. Tanpa sengaja aku melihat lagi apa yang kurindukan selama ini. Rasi bintang Cassiopeia, tampak berkilauan dilangit. Aku tersenyum melihatnya.
“Terima Kasih Coca, Aku tidak akan melupakanmu.. Cinta Pertamaku.”
The Brighter.. ~End~
Nurma Desty Anggraeni  - Desember 2010

Itulah cerpennya^^ Ini aku buat di penghujung 2010, kira-kira beberapa hari setelah kematian Coca.. bagaimana menurutmu?
ngggggg......
Iya tau deh tau! pasti jelek kan? (*- -)(*_ _)
Ah, gomen~ cuma bisa kasih segini. hehehe
maklum saja ya kalau jelek, soalnya aku masih sangat amatiran dibidang tulis menulis. hehehe *alasan*
Well, doain aja kedepannya aku bisa menulis lebih bagus hahaha

(Cerpen) The Brighter part 3

The Brighter..
(Part 3)
6 hari kemudian.
            “Uhuk.. uhuk!!” batukku. Sudah dua harian ini aku terbaring sakit. Entahlah. Aku tidak tahu aku terkena penyakit apa. Yang jelas aku merasa sangat pusing dan seluruh badanku menggigil. Aku juga kehilangan nafsu makanku. Jika menelan makanan, rasanya tenggorokkanku sakit sekali. Aku jadi tidak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa berbaring dan berjalan-jalan kecil saja.
            “Coca, ini makanannyo.. ayo makan dulu.” Ucap Desty sembari membangunkanku. Sepertinya dia tahu aku sakit, soalnya dia tidak menyuruhku makan diluar.
            “Hm.. ya.. taruh saja disitu,” gumamku tanpa berniat untuk menyantapnya. Sungguh, aku tidak bernafsu makan sekarang.
            Aku bingung. Kenapa tiba-tiba aku bisa jatuh sakit seperti ini. Lalu aku ingat, tiga hari yang lalu aku memangsa seekor tikus, waktu itu aku kelaparan jadi aku iseng-iseng saja menangkap dan menyantapnya. “Apa karena aku memakan tikus itu, ya? Ah tidak mungkin!” pikirku. Sebelumnya aku sudah pernah memangsa tikus, tapi tidak jatuh sakit.
            “Coca.. apa kau dirumah??” panggil seseorang membuyarkan lamunanku. Ternyata itu Pity. Semenjak aku sakit, dia rutin mengunjungiku setiap malam. Aku sangat berterima kasih atas perhatiannya.
            “Iya, tunggu sebentar,” sahutku sembari berjalan pelan ke depan. Kulihat Pity tersenyum sayu kepadaku.
            “Bagaimana keadaanmu? Apa sudah baikan?” tanyanya.
            “Hm, ya begitulah. Kupikir belum terlalu baik,” jawabku mengangkat bahu sambil duduk disamping Pity.
            “Ohh,” katanya. “Apa kau sudah tahu penyakit apa yang menyerangmu?”
            “Entahlah, aku tidak tahu, sudah 2 hari aku sakit. Sebelumnya aku belum pernah seperti ini” ujarku, bingung.
“Kuharap kau hanya menderita flu biasa saja,” gumamnya.
“Ya, semoga saja.” Jawabku.
Aku melihat Pity menatapku iba. Tatapannya tampak sedih. “Pity, kumohon jangan menatapku seperti itu,” pekikku dalam hati. Hatiku terasa teriris-iris melihatnya.
Kami terdiam sejenak, kulihat Pity menghela nafas seraya memandang kelangit. Aku pun ikut memandang kelangit. Kulihat taburan bintang yang sangat indah. Aku sangat menyukai bintang-bintang itu.
Saat aku kecil aku sempat mengira bahwa itu adalah lampu, aku selalu penasaran, siapa sih yang memasang lampu-lampu itu dilangit. Tapi saat aku tumbuh besar, akhirnya aku tahu bahwa itu adalah benda langit yang disebut BINTANG.
“Lihat.. indah sekali ya..” kata Pity kagum.
“Iya.. Indah sekali.” Jawabku tersenyum. Lalu aku melihat sesuatu yang tak terduga. “PITY!! LIHAT!! ITU CASSIOPEIA!!” pekikku seraya menunjuk ke langit.
“Hah?? Apa itu Cassiopeia??” Tanya Pity.
“Cassiopeia itu, adalah nama salah satu rasi/gugusan bintang. Itu, yang disebelah sana! LIMA bintang yang tersusun seperti huruf W” kataku, semangat.
“Oh iya!” katanya semangat. “Memang seperti huruf W!” serunya semangat. Aku tersenyum melihatnya.
“Indah kan?? Itu rasi bintang yang paling aku sukai” kataku.
Pity mengangguk-angguk, lalu menatapku kagum. “Ternyata kau banyak tahu tentang rasi bintang ya!”
“Ah, tidak.. kebetulan saja aku tahu, karena Cassiopeia itu lambangnya DBSK, salah satu boyband kesukaannya Desty. Cassiopeia juga menjadi nama Fandomnya DBSK. Desty sering berceloteh tentangnya, jadi aku tahu sedikit. Hehehe.” Jelasku.
“Ohh, begitu” katanya, mengerti. “Tapi indah sekali ya..” katanya lagi.
“Iya!” kataku. “Apa kau tahu? Suatu keberuntungan kita bisa melihat Cassiopeia!”
“Ng? Kenapa begitu?”
“Soalnya, setahuku Cassiopeia itu salah satu rasi bintang Utara. Biasanya terlihat jelas di daerah bumi utara seperti di Jepang dan sekitarnya. Jadi Cassiopeia sulit sekali atau jarang bisa dilihat dari wilayah Indonesia yang sebagian besar terletak di selatan. Kecuali jika kau punya teleskop bintang.” Jelasku. Pity mengangguk-angguk, mengerti.
“Kita beruntung sekali kalau begitu, wahh” katanya.
“Hahaha, iya. Lain lagi jika mengenai rasi bintang seperti Sagitarius yang merupakan Rasi bintang Selatan.”
“Wah, kau tahu banyak ya.. aku jadi kagum” katanya. “Hehehehehehehe..” aku menggaruk kepala malu.
“Coca, bagaimana kalau kita bertemu setiap malam untuk melihat bintang-bintang bersama? Aku jadi tertarik nih.” Katanya, “Kau mau kan?”
Aku membelalakkan mata. “Tentu saja aku mau!” kataku senang. Kami terdiam sejenak.
“Coca, apa kau tahu?” Tanya Pity.
“Ng?? apa??”
“Aku selalu merasa beruntung mengenal kalian semua, Garpil, Hendri, Gaby.. kalian sangat baik terhadapku, aku bahagia sekali,” Pity terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Terutama, karena aku bisa bertemu denganmu.. terima kasih ya, sudah mau jadi bagian dari hidupku.” Katanya tersenyum.
Aku terdiam menatapnya. “Tidak, seharusnya aku yang bilang begitu Pity.. terima kasih..” kataku terbata, aduh, rasanya aku ingin menangis, pikirku.
“Hahaha.. iya, kita sama-sama terima kasih lah.. dak usah kayak gitu nian muko kau, selo be..” katanya tertawa.
Lalu kami melihat lagi bintang-bintang itu berkilauan dilangit. Aku bahagia sekali seperti ini!
***
Keesokkan harinya.
“Coca! Coca!” panggil Pity sambil berlari kencang kearahku. Aku saat itu sedang menikmati segarnya hembusan angin senja didepan rumah. Seharian ini aku hanya menghabiskan waktuku dirumah. Entah kenapa aku merasa keadaanku semakin memburuk saja.
“Ada apa??” tanyaku “Apa terjadi sesuatu padamu??” aku khawatir, jangan-jangan Tomi mengganggu Pity lagi. Selama ini Tomi sering mengganggu Pity. Tapi berhasil aku halau. Kupikir, Tomi juga menyukai Pity, jadi aku selalu berjaga-jaga kalau-kalau Tomi mengganggu Pity lagi.
“Itu.. Aku.. hah.. aku..” Pity berusaha berbicara dengan nafas yang tersengal-sengal.
“Atur dulu nafasmu, baru bicara,” saranku. Pity tampak menenangkan nafasnya. “Nah, sekarang ada apa? Apa Tomi mengganggumu lagi??”
“Tidak. Ini bukan soal dia. Aku cuma mau memberitahu pengumuman penting dari tetua” katanya.
“Oh, apa kata kakek tetua??”
“Tadi kakek Momo mengumumkan bahwa untuk sementara, warga kucing jangan dulu memakan tikus.” Jelasnya.
Degh. Jantungku berdebar. “Me.. Memangnya kenapa?” tanyaku, terbata.
“Karena, kata kakek Momo akhir-akhir ini banyak bertebaran racun tikus. Ini sangat berbahaya, jadi jangan sampai termakan. Kabar ini baru diketahui setelah pak kucing diblok sebelah mati tanpa sebab. Setelah diselidiki ternyata sekitar 3 hari sebelumnya dia memakan tikus yang sudah diracuni.” Jelas Pity tandas.
Mendengar itu, jantungku serasa berhenti berdetak. Aku hanya terdiam memucat. “Bagaimana ini.. apa itu benar.. apa aku..” pikirku sesak. Aku teringat akan tikus yang kumakan. Rasanya memang agak lain, tapi waktu itu tidak kuhiraukan.
“Kamu kenapa?? Hei.. Yank, kamu kenapa? Apa ada sesuatu?” panggil Pity menyadarkanku. “eh, tidak..” sahutku.
“Beberapa hari ini kamu tidak makan tikus kan?” Tanya Pity menyelidik. Aku gelagapan, “Tidak.. tentu saja tidak..” jawabku. Aku tidak ingin Pity tahu.
Pity menghela nafas lega. “Ffiuh, sukurlah kalau begitu. Ohya, nanti malam aku akan datang kerumahmu, kita lihat bintang sama-sama lagi ya!”
“Eh, iya.. akan ku tunggu.” Kataku berusaha tersenyum.
“Eh, sudah dulu ya yank! Aku mau memberi tahu kucing yang lain.” Katanya seraya berlalu.
Aku memandang kepergian Pity dengan tatapan nanar. “Bagaimana ini?? Aku sudah memakan tikus itu.. apa aku akan mati?? Aduh, apa yang akan kulakukan??” pikirku bingung. Pikiranku kacau. Aku terus berpikir bingung sampai aku tak sadar bahwa hari sudah malam.
Aku tidak bernafsu makan meskipun aku merasa lapar. “Hei, apa aku ini akan mati?” tanyaku pada Desty yang kebetulan sedang (Entah kenapa) semangat sekali untuk memotoku. Desty hanya diam saja, kulihat di matanya, dia seakan sedang memikirkan sesuatu.
“Apa yang sedang dia pikirkan? Apa dia berpikir tentang kematianku?” tanyaku, sedih.
Malam itu, aku memutuskan untuk berbaring sendirian di luar. Aku melihat bintang-bintang yang bersinar dilangit. Indah sekali. Lalu tidak sengaja aku melihat Cassiopeia. “Ah.. itu, Cassiopeia.. seandainya Pity ada disini, dia pasti senang sekali. Bisa melihat Cassiopeia lagi.” gumamku.
“Dimana Pity sekarang? Kenapa dia tidak datang seperti biasa? Dia kan sudah berjanji akan datang. Apa dia lupa?” pikirku sedih. Aku sudah tahu bahwa malam ini adalah malam terakhirku. Aku ingin ada Pity disampingku. Tapi dia tidak ada.
“Kemana dia? Apa yang terjadi padanya?” pikirku cemas. Aku teringat mungkin setelah ini, aku tidak akan bisa melihat dan melindunginya lagi dari Tomi jika memang benar aku akan mati.
Semua pikiran sedih berkecamuk dipikiranku. Tiba-tiba ada yang memanggilku. “Coca! Coca! Coca!!”
“Siapa itu? Apa itu Pity?” pikirku. “Ah, ternyata kau Garpil!” kataku. Garpil datang mendekat.
“Hei, bagaimana keadaanmu? Kudengar kau sakit.” Katanya. “Ya, memang aku sakit. Terima kasih sudah mau datang” kataku.
“Ah, tidak apa.” Katanya. “Ohya, tadi Hendri menitipkan salam untukmu. Katanya maaf dia tidak bisa datang menjengukmu.”
“Hahaha, NoPro sob, kalian sudah mau peduli padaku, aku sudah senang.” Kataku. Garpil tersenyum mendengarnya.
“Hei, apa kau sudah mendengar kabar tentang kematian kucing blok sebelah? Kasihan sekali ya.. untung saja aku jarang makan tikus.”
“Hhh.. iya,” kataku. “Hei Garpil, aku mau meminta tolong padamu, bisa?”
“Ng? Tentu saja bisa. Kau kan sudah banyak menolongku. Apa? Katakan saja.” Ujar Garpil.
“Jika, nanti aku sudah tidak ada, maukah kau menjaga Pity untukku?” kataku terbata.
“Apa?? Hei.. kenapa kau bicara begitu??” seru Garpil kaget.
“Tidak, kau bisa kan menjaganya untukku??” tanyaku lagi.
“Hm.. tentu saja bisa..”
“Syukurlah kalau begitu. Aku percaya padamu. Tolong jaga dia ya..”
“Tentu saja.. tapi, kenapa kau berbicara begitu?? Ada apa??” tanyanya khawatir.
“Tidak ada apa-apa, hanya berjaga saja.. kita kan tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, ya kan?” kataku. Aku tidak mau sahabatku ini khawatir hanya karena aku.
Sesaat kemudian, Garpil pamit pulang padaku. “Selamat tinggal,” kataku dalam hati. “Maafkan aku Garpil, mungkin setelah ini kita tidak akan bertemu lagi.” Aku memutuskan untuk masuk saja kedalam rumah.
Saat sedang berbaring, Tiba-tiba saja aku merasakan sakit yang teramat sangat di perut dan kerongkonganku. “Tenggorokanku sakit sekali.. lebih baik aku minum dulu.” Pikirku. Aku pun berusaha berjalan, hendak ke kamar mandi. Suasana rumah sudah sepi, karena semua sudah pergi tidur.
Tapi, belum sampai aku ke kamar mandi, aku sudah roboh duluan. Aku merasa tidak kuat lagi untuk berdiri. Nafasku tersengal-sengal. Aku tak mampu bernafas dengan baik. Aku meringis kesakitan. Rasa sakit diperut dan kerongkonganku semakin menjadi. Tubuhku serasa lumpuh semua. “Apa ini waktunya?” pikirku sedih.
“Pity.. dimana kau.. aku rindu padamu.. aku ingin kau ada disini.. untuk terakhir kalinya.. aku ingin melihat senyummu.. kenapa kau tidak datang..” pikirku sedih. Hatiku perih. Aku teringat semua kenangan aku dengannya, juga bersama sahabatku yang lain. Saat aku bertabrakkan dengannya, saat aku menyelamatkannya dari Tomi, saat kami melewati hari bersama.. semuanya berputar di ingatanku. Juga disaat kami melihat Cassiopeia.. ah, aku masih ingat bagaimana senyum manisnya..
Ya.. senyumnya yang mungkin tidak akan aku lihat lagi..
Aku tersenyum miris mengingat semua itu. Ingin rasanya aku berlari pergi kehadapannya sekarang, hanya untuk sekedar melihatnya untuk yang terakhir kali..
“Sukurlah, aku sempat menitipkannya pada Garpil..” pikirku, teringat akan kedua sahabatku Garpil dan Hendri.
Rasa sakit semakin menjadi aku rasakan. Dadaku sesak. Aku melihat ke sekeliling. Ah. Dapur ini.. sudah banyak kejadian yang aku alami bersama keluarga ini. Aku juga ingin bertemu dengan Desty sekali lagi. Tapi tubuhku tidak mengizinkan. pandanganku semakin kabur. Aku tidak bisa melihat dengan jelas lagi.
“Ah.. mungkin memang inilah saatnya untukku.” Gumamku. “Garpil, aku titipkan Pity padamu, kumohon jagalah dia baik-baik..” pintaku, berbisik dalam hati.
Kulihat ke sekeliling sekali lagi. semua terlihat samar. Untuk yang terakhir kalinya, aku ingin Pity ada disisiku..
Kututup mataku dan kuhembuskan nafasku yang terakhir. Rasa sakit yang menjalar di tubuhku semakin memuncak hingga pada akhirnya hilang…
“Selamat tinggal semuanya.. Terima Kasih telah hadir di hidupku”…

~TBC~

Bagaimana ya nasib Pity setelah ini? baca di part terakhir ya ^^ 

(Cerpen) The Brighter part 2

Sekedar info, cerpen ini aku buat dipenghujung tahun 2010 ._.

The Brighter..
(Part 2) 
 
 
Coca’s POV
            “Nyamm..” kulahap sarapan pagiku. Jam masih menunjukkan pukul 06:20. Tapi kulihat Desty sedang memakai sepatu putihnya.
“Sudah mau berangkat rupanya.” Pikirku. “Sendirian lagi deh..” Keluargaku memang pergi setiap pagi (kecuali minggu) dan pulang pada siang harinya. Papa biasanya pulang sore. Jadi aku yang menunggu rumah.
30 menit kemudian, rumah sudah sepi. Semua sudah pergi, dan disinilah aku, duduk santai sendirian didepan rumah. Garpil dan Hendri belum menjemputku, dan aku juga malas untuk menjemput mereka. Rencananya kami mau bermain lagi di lapangan.
Sedang enak enak berbaring, sambil menikmati sinar matahari pagi, tiba-tiba aku mendengar suara kucing berteriak. “Ah, mungkin mereka sedang berebut kepala ikan.” Batinku tak peduli. Tapi sedetik kemudian sayup-sayup aku mendengar kucing itu berteriak minta tolong.
“HAH?? Ada yang minta tolong” kataku, kaget. Aku celingukan mencari sumber suara. Aku melihat di ujung jalan ada musuh bebuyutanku, Tomi. Didepannya ada kucing perempuan waktu itu. Dia tampak ketakutan. Tampaknya Tomi membuat ulah lagi.
“CIH! Semoga sempat!” dengusku kesal. Sekuat tenaga aku berlari lalu menyeruduk Tomi.
“BUUGGHH!!!”
Tomi terpental kejalan. Dia berusaha bangkit dan melawanku. Tapi cepat cepat kuelakkan badanku dan kuseruduk balik dia. Kulawan dia dengan serangan bertubi-tubi. Tomi tampak kewalahan melawanku.
“Takkan ku biarkan kau menyakiti kucing lain lagi.” Batinku.
“Pergi kau!!” teriakku padanya. Tomi yang sudah terkulai itu, langsung melarikan dirinya dan berteriak dari kejauhan.
“Awas kau Coca!! Lihat saja nanti!!” ancamnya.
“TERSERAH APA KATAMU!!” balasku.
Segeraku berbalik dan melihat kucing perempuan itu masih menutup mata ketakutan. Kuhampiri dia dan berkata, “Hei, kau tidak apa-apa??”. Kucing itu perlahan lahan membuka matanya. Dia tampak pucat.
“Sudah, tak apa apa, dia sudah pergi kok. Kau tak usah takut lagi,” ujarku tersenyum sembari membantunya berdiri.
“Kau.. mengusirnya pergi?? Kemana dia??” tanyanya.
“Ya, begitulah.. kau tidak perlu takut lagi” kataku menenangkan. Dia tampak lega mendengarnya.
“Wahh.. terima kasih banyak. Kalau tidak ada kau, entah bagaimana nasibku.” Katanya, berterima kasih.
“Ah, NoPro.. lain kali kau harus lebih hati-hati.” Ujarku.
“Hm.. baiklah.. terima kasih, eh kau.. kucing yang waktu itu kan?” tanyanya. “Wah, dia masih ingat padaku rupanya..” pikirku senang.
“Hm, iya.. kau yang waktu itu kan..” jawabku.
“Iya. Aku mau minta maaf karena menabrakmu kemarin.. ohya, aku Pity! Kau siapa?” katanya.
“Pity? Namamu bagus sekali. Aku Coca.. salam kenal.” Kataku memuji
 “Ah, namamu juga lucu, Coca.” jawabnya. Tampaknya ia malu.
“Benarkah?? Hhehehe.. ya, majikanku yang menamaiku seperti itu. Terkadang aku kesal kenapa mereka menamaiku sama dengan merk minuman.” Jawabku.
Dia tertawa mendengarnya. “Ah tidak, namamu bagus. Seharusnya kau bersyukur.” Ujarnya.
“Coca!! Oi Coca!! Maen dak??” ada yang memanggilku. Aku dan Pity menoleh. Tampak olehku Garpil dan Hendri, ternyata mereka yang memanggilku.
“Woiii!! Aku disini!!” seruku. Mereka menoleh lalu langsung berlari mendekatiku.
“Woi, ngapoi kau disini??” Tanya Hendri. “Hm.. ada sedikit urusan.” Kataku. Aku tak bermaksud menceritakannya pada mereka. “Cuma membuat ribut be.” Pikirku.
“Ohh…” sambung Garpil. Dia lalu melirik kearah Pity lalu berkata, “Coca, jangan gitulah, punya kawan baru tidak di kenalin ke kami. Ya kan Hen??” Hendri mengangguk setuju.
“Ehh.. iya..” jawabku gelagapan. “Garpil, Hendri, Kenalin ini Pity. Pity, ini Garpil dan ini Hendri. Mereka sahabat-sahabatku.”
“ Aku Pity! Salam kenal” Pity mengangguk kearah Garpil dan Hendri.
“Aku Garpil,” jawab Garpil.
“Aku Hendri, kau kucing baru disini, Pity??” Tanyanya.
Pity mengangguk. “Ya, aku baru sampai disini 2 hari yang lalu.”
“Wahh, kalau begitu selamat datang Pity!” sorak Garpil. Pity hanya tertawa mendengarnya. “Eh, jadi gak kita ke lapangan nih??” celetuk Hendri. “Iya, jadi gak nih?” Tanya Garpil.
“Jadi dong..” jawabku. “Ayolah kalau begitu,” seru mereka berdua. Aku berbalik, “Yuk Pity, mau ikut gak??” tanyaku. Pity terkejut mendengarnya. “eh?? Aku boleh ikut??” tanyanya tak percaya. “ya bolehlah.. ya kan Hen, Pil??” tanyaku pada kedua sahabatku itu, meminta kepastian.
Mereka mengangguk kuat. “Tentu saja boleh!” kata Hendri. “Ya! Lagipula Pity kan teman kita sekarang, kami sih tidak keberatan. Justru kami ingin bertanya, apa Pity mau menjadi teman kami??” Tanya Garpil ke Pity.
Kami memandang Pity, ingin tahu jawabannya. Muka Pity merona senang mendengarnya. “Kalau kalian tidak keberatan, tentu saja aku mau!!!” katanya, bersemangat. Aku tertawa kecil melihatnya begitu bersemangat.
“Kalau begitu, ayo! Tunggu apa lagi, ayo kita kelapangan!” seruku yang langsung disambut sorak setuju oleh sahabat-sahabatku.
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Pity’s POV
Piring kuning raksasa dilangit bersinar terik kali ini. Aku dan sahabat-sahabat baruku sedang beristirahat mendinginkan tubuh, berbaring di semak-semak. Tidak kusangka aku bisa mendapat teman secepat ini. “Mereka begitu baik, mau mengajakku bermain padahal kami kan baru kenal.” Pikirku.
Kuperhatikan mereka satu persatu. Ada Coca, Garpil dan juga Hendri. Garpil, kucing jantan berbulu kuning ini sangat ramah dan lumayan humoris. Lalu Hendri, dia mempunyai tubuh yang tegap dan bulunya yang hitam bercampur abu-abu, kupikir dia ini kucing yang menyeramkan seperti kucing yang menyerangku tadi. Tapi ternyata dia ramah dan sangat baik malah dia lebih polos dari yang kukira. Aku merasa beruntung bisa berkenalan dengan mereka. Tapi diantara mereka bertiga aku kagum dengan Coca. Tadi dia hebat sekali.
“Tapi, apa dia mengenal kucing tadi ya??” tanyaku dalam hati.
Pelan pelan aku mendekati Coca. “Matanya tertutup, dia pasti tidur.” Pikirku, “tapi tidak ada salahnya aku coba bertanya”
“Hei, Coca..” panggilku pelan.
Dia membuka matanya, “Eng.. ada apa Pity??” tanyanya.
“Hm.. itu.. kucing jantan tadi, apa kau mengenalnya??” tanyaku.
Mendengar pertanyaanku, Coca mengubah posisinya menjadi duduk. “Hm.. iya aku mengenalnya, memangnya kenapa?” tanyanya balik.
 “Eh?? Hm, tidak aku cuma ingin tahu.” Jelasku.
“Ohh.. iya tentu saja aku mengenalnya, nama kucing itu Tomi. Bisa dibilang dia itu kucing penguasa disini.” Terangnya.
Aku terkejut. “Hah?? Dia penguasa disini?? Pantas!! tapi tadi kau berani sekali melawannya, bagaimana bisa??”.
Belum sempat Coca menjawab pertanyaanku, tiba-tiba Garpil menyela, “Apa yang kalian bicarakan itu Tomi??”. Aku terkejut, kupikir dia tidur. Coca mengangguk.
“Hm.. yah, bisa dibilang dia itu kucing penguasa di daerah ini. Para kucing takut terhadapnya, para kucing, kecuali kami. Terlebih lagi Coca” kata Garpil. Aku tertegun mendengarnya. Ku pandangi wajah tampan Coca. “Ya, Tomi itu musuh bebuyutan Coca. Sudah dari dulu Tomi itu jadi musuh kami dan abangnya Coca, Mini.” Kata Garpil lagi. “Ohh.. begitu” kataku paham.
“Ohya, teman-teman, apa disini ada kucing yang lainnya lagi??” tanyaku.
“Tentu saja!!” sahut Hendri tiba-tiba. Rupanya ia terbangun dari tidurnya.
“Selain kita ada banyak kucing lainnya, ada Kucing tetua, Pak Bleki, dan yang lainnya. Ada juga Gaby.” Kata Hendri.
“Gaby?? Siapa itu? Apa dia teman kalian juga??” tanyaku.
“Iya, sebenarnya kami ini berempat, tapi karena Gaby sekarang sudah punya anak, jadi dia tidak bisa bermain dengan kami lagi sesering dulu.” Kata Coca.
“Wahh.. rasanya aku ingin bertemu mereka!” kataku semangat.
“Kalau begitu, ayo kita berkeliling!” seru Hendri semangat. Aku mengangguk setuju. Tapi Garpil punya pendapat lain. “Bagaimana kalau nanti sore saja??” katanya.
“Iya, lagipula kurasa majikan kita sudah pulang” Coca membenarkan. Akhirnya kami setuju, dan janjian bertemu lagi di semak itu nanti sore.
***
“Perkenalkan, aku Pity!” seruku seraya cengar-cengir kepada kucing didepanku.
“Hahaha, kau bersemangat sekali” timpalnya. “Aku Gaby”. Aku tersenyum mendengarnya. “Terkadang semangatku memang suka berlebihan, tante” kataku polos.
Gaby dan teman-temanku tertawa terbahak-bahak mendengar perkataanku. “HAHAHAHAHA!!!! Aduh, jangan manggil tante dong Pity, panggil saja aku Gaby!” katanya. Aku hanya mengangguk malu.
Gaby itu menurutku sudah tampak dewasa sekali. Jadi aku keceplosan memanggilnya tante. Ternyata umur Gaby cuma berbeda beberapa bulan dariku. Aku juga sempat melihat Ades, majikan gaby.
Setelah bermain sebentar dengan anak-anak Gaby, kami pun pergi ke rumah Pak Bleki dan Kucing Tetua.
“Pak Bleki itu ketua kucing bapak-bapak” kata Garpil. “Lalu, Kucing tetua itu kakek ketua kucing disini. Kami biasa memanggilnya Kakek Momo.” Sambung Coca.
“Kakek Momo?? Hahahahaha.. lucu sekali namanya!” kataku geli. “Hm..Ya, memang itu panggilan kakek itu, oya, apa kau tahu Pity?? Ada yang bilang kalau Garpil itu cucu kakek Momo! Mirip sih!” celetuk Hendri yang kemudian di jitak oleh Garpil. “Jangan mau percaya dengan Hendri Pit!! Haram!!” serunya. Mendengar itu aku dan Coca tertawa keras, “HAHAHAHA!!!!”.
Sungguh hari yang menyenangkan!
∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Coca’s POV
30 November 2010..
“Hah~!!” aku membaringkan tubuhku di atas keset di pintu depan.
“Terima kasih banyak makanannya,” kata Pity tersenyum lembut. Kupandangi Pity yang sedang membersihkan badannya. Malam ini aku mengajaknya makan malam di tempatku.
Hari berlalu tanpa terasa. Tanpa terasa Pity sudah bergabung bersama kami hampir 6 bulan lamanya. Dan tidak kusangka pula Pity sekarang sudah jadi pacarku. (Hehehehe…)
Entahlah, mungkin sejak pertemuan pertama itu telah terjadi sesuatu diantara kami. Aku… menyukainya, dari segala hal yang dia punya. Awal bulan ini, tentu saja dengan dorongan dari Garpil dan Hendri (you’re the best, man!!) aku memberanikan diri menyatakan perasaanku padanya. Dan, tidak kusangka perasaanku berbalas. Dan jadilah kami pacaran seperti sekarang!
Majikan-majikan kami juga. Mereka bertiga tampak akrab. Desty, Jelly dan Tutu (majikan Garpil) sekarang bersahabat baik. Aku sering melihat mereka bertiga bersama. Aku juga sering melihat Desty sering mengobrol akrab dengan Ades, majikan Gaby. Semua berjalan tenang dan menyenangkan.
“Coca, apa kau tidur??” Tanya Pity lembut.
Aku membuka mataku dan melihatnya. “Hm, tidak.. apa kau sudah mau pulang??” tanyaku. Pity mengangguk, aku segera berdiri bermaksud mengantarnya pulang..
***
“Wuoo Coca!! Met pagi!” pekik Desty memekakkan telingaku.
“Aduh.. pagi-pagi sudah ribut!” Gerutuku. “Ada apa sih memangnya??” pikirku mengeluh. “Aku kan masih mau tidur!”.
“Wahh… Desember! Desember!” katanya lagi.
“Ya ampun.. pantas.. aku lupa kalau sekarang sudah Desember!” pikirku. Desty memang jadi lebih bahkan kelewat semangat kalau desember sudah datang (seenggaknya aku sudah 4 kali melewatkan desember dengannya.), lalu dia biasanya akan sedih dan loyo kalau desember sudah mau berakhir. Dan sudah jadi kebiasaan dia buat badmud dan marah-marah sendiri di malam tahun baru.
“Dasar aneh!” kataku mendengus, sementara dia masuk ke kamar mandi.
15 hari kemudian..
Pukul 04:12…
Trrrrt.. trrrt… trrrtt…
Suara aneh itu membangunkanku. “Suara apa itu??” aku terbangun dari tidurku. Aku melirik kearah tempat tidur Desty dan melihat hapenya bergetar. “Ohh.. getaran hape,” gumamku. Sepertinya itu sms yang datang.
“Hah~ siapa sih yang sms pagi-pagi??” Aku melihat Desty terbangun dan meraih hapenya. Dia tampak kesal karena tidurnya terganggu, tapi sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah 180°!
“Ehh.. makasih!! hohohohohohohohohohohohoho” gumamnya, ketawa sendiri.
Aku hanya melongo, “Aduh.. Desty… pagi pagi sudah error! CkCkCk…” kataku mendecak heran.
Aku tidak tahu apa isi sms itu, tapi yang jelas pasti isi yang menyenangkan. Aku berusaha untuk tidak peduli dan tidur lagi. Tapi sedetik kemudian hapenya bergetar lagi, dan lagi dan lagi dan lagi dan lagi. aku jadi tak bisa tidur lagi! “Argghhh!!!!!!!!!!”
Pagi harinya, Desty jadi makin aneh. Dia kelihatannya senang sekali.
“Coca! Sudah 15 desember ya?? hohohohohoho” katanya padaku. ( =.=eh.. )
Aku jadi heran, “Dia salah makan apa sih??” pikirku, “Dasar aneh! Huh!”. Sebaliknya, hari ini aku malah merasa lesu sekali.
“Coca.. Coca.. maen dak ni??” panggil Garpil dan Hendri.
“Iyoo.. tunggu bentar!” seruku dari dalam. Aku bersama kedua sahabatku segera meluncur ke tempat biasa kami bermain. Pity juga sudah menunggu kami di sana. Entah mengapa kali ini aku merasa malas. Sepanjang siang itu aku hanya duduk diam memperhatikan mereka berlari-lari kesana kemari. Entah mengapa hari ini aku merasa sangat lelah.
Pity menghampiriku sambil tersenyum, aku membalasnya sekilas. Dia duduk di sampingku. “Kamu kenapa? Tumben kok lesu?” tanyanya.
“Hm.. entahlah, aku juga gak tahu,” kataku. “Mungkin karena aku kurang tidur” lanjutku.
“Kurang tidur?” Pity menaikkan alisnya heran. “Kenapa? Kamu sakit??”
“Hmp, tidak. Kurasa aku tidak sakit.” Kataku. “Tidurku terganggu gara-gara getaran hapenya Desty. Dia pagi-pagi sudah smsan, aku jadi tak bisa tidur lagi..”
“Ck, aduh.. kasihan” kata Pity sambil mengelus kepalaku. Rasanya nyaman. “Ngomong-ngomong sms, tadi pagi Jelly juga mendapat banyak sms!”
“Oh ya?” kataku. “Yup..” Pity membenarkan. “Dia kelihatan sangat senang ketika membaca sms-sms itu, awalnya aku tidak tahu kenapa dia begitu senang, tapi rupanya Jelly berulang tahun hari ini. Dan sms-sms itu datang dari teman-temannya, mengucapkan selamat.”
“Ulang tahun?? Ohh..” kataku.
Pity mengangguk, “Hei, apa majikanmu itu juga berulang tahun hari ini? Siapa tahu kan?” tanyanya.
“Hm.. entahlah aku lupa, aku tak tahu kapan dia ulang tahun.” kataku.
“Kau tidak tahu? Wah, lebih baik kau cari tahu, siapa tahu kan kalau majikan kita ulang tahunnya sama! Kan asik!” kata Pity semangat.
“Hahahaha.. iya juga ya! Kalau mereka serempak ultah, asik dong” kataku tertawa. “Hahaha.. iya! Ayo kita selidiki dirumah kamu!” sahut Pity semangat.
“Sekarang yank??” tanyaku. Pity membelalakkan matanya. “Iyalah.. kapan lagi, tahun depan??”.
“Tapi yank, kurasa percuma saja kalau mencari tahu sekarang, Desty kan belum pulang. Dia pulangnya sore.” Kataku. Ya, kebetulan sekolahnya saat ini sedang mengadakan acara SanLat yang berakhir di sore hari.
“Yahh… gak asik” kata Pity sedikit kecewa. “Hm.. tapi kan tidak ada salahnya kalau kita lihat dulu, siapa tahu kan dia pulang cepat. Lagipula aku ingin melihat-lihat rumahmu. Ayolah!! Ya!!” kata Pity semangat.
Dengan semangat dia mengajakku untuk pulang kerumah dan mencari tahu. Dengan malas-malasan aku mengikuti langkah besar Pity. Kami pergi menyelinap kedalam lewat jendela kamar Febri yang selalu dibuka setiap hari.
“Tuh kan, mereka belum pulang, apa ku bilang,” kataku. Pity tidak menghiraukan perkataanku, “Eh, yang mana kamar Desty?” tanyanya.
“Yang ini, emang kena…” belum sempat aku selesai bicara Pity sudah bergegas masu ke dalam kamar. Kulihat dia memanjat keatas meja belajar.
“Heiii, kamu ngapain sih yank?? Ayo turun.” Seruku sedikit panik.
“Yank!! Coba deh lihat!” serunya dari atas. Aku langsung meloncat naik dan melihat kearah kotak kecil yang ada disana. “Apa itu??” tanyaku. Pity menggelengkan kepala.
“Mana ku tahu, kau ini bagaimana!” katanya. Aku meringis mendengarnya. Lalu aku baca tulisan tertera di sana.



            Aku dan Pity saling pandang. “HOREEE!!!!” pekik kami serentak.
“Pity! Ternyata benar, Desty memang ulang tahun hari ini!” seruku.
“Itu berarti… kita punya majikan kembar!” kata Pity konyol.
            “Hohohohoho.. pantas saja Desty tadi kelihatan senang banget” kataku.
            “Kalau begitu nanti saat dia pulang, kita harus memberikan ucapan selamat.” Cetus Pity. Aku mengangguk setuju.
***
            Brum.. brum…
            Kudengar suara motor memasuki garasi rumah kami. “Desty pulang!” pikirku. Aku langsung berlari menyambutnya.
“Coca!” Seperti biasa dia selalu menyapaku setiap bertemu. Setelah menggaruk kepalaku sebentar, dia langsung masuk kekamar. Aku berlari menyusulnya. Kulihat dia sedang membuka kotak tadi.
       “Wahh.. apa ini?? Kado untukku??” tanyanya, senang. Aku hanya mengangguk mengiyakan meskipun dia tidak melihat anggukanku.
“Selamat Ulang tahun ya Desty!!” seruku padanya seraya mengusapkan tubuhku ke betisnya.
            “Aku tak tahu kau ulang tahun hari ini!” kataku lagi. Desty tersenyum melihatku lalu dia mengelus kepalaku.
“Eh!! Coca, tahu gak kenapa aku senang hari ini??” tanyanya.
“Ya pasti karena kau berulang tahun hari ini kan?” tebakku.
“Itu.. karena… JunSu hari ini ulang tahun!!” pekiknya menyeringai.
            “Eh, bukannya kau yang ulang tahun??” tanyaku kaget. Tapi tentu saja dia tak mengerti perkataanku.
“Iya!! JunSu ulang tahun hari ini!! Wahh..” kata Desty lagi. Aku pun mulai bingung. “Sebenarnya siapa sih yang ulang tahun hari ini??!”
 ~TBC~

LOL, apa banget cerpen ini ._.